Rabu, 21 Maret 2012

kalimat induktif



                Apa yang salah ?
M
ungkin akhir-akhir ini Negara kita makin identik dengan korupsi,tak kenal jabatan,tak kenal usia lihat saja bukan hanya para mereka yang telah berusia “ tua “ tetapi juga kini mereka yang baru menjadi PNS Gol III C. Sangat menggegerkan mungkin,bagaimana tidak hal tersebut sangat berbanding dengan gaji mereka dan harta/nominal yang mereka korupsikan,dan saat ini jabatan banyak disalah gunakan untuk korupsi.Miris memang,jika seorang penegak hukum saja ikut berkorupsi ,bukan menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi. Pantas memang rasanya jika korupsi itu diibaratkan lebih kejam dibanding pembunuhan. Memang menurut saya perlu ada pemimpin yang tegas serta berani dalam menindak para koruptor serta adanya hukuman yang berat bagi mereka yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi,serta saya sangat setuju dengan usulan baru,yakni “memiskinkan para koruptor”. Mungkin dengan hal tersebut akan ada “efek jera” untuk mereka dan menjadi “momok” yang menakutkan untuk mereka yang berniat korupsi,jadi dengan demikian korupsi dapat dicegah.
Hal yang miris memang,mereka yang korupsi bernilai ratusan juta rupiah atau bahkan milyaran rupiah hanya dihukum 1 tahun atau bahkan beberapa bulan saja,tapi bagi si pencuri kakao,pencuri sandal,pencuri semangka,pencuri pisang. Mereka didakwa hukuman 1-5 tahun,walau pada akhirnya setelah ada upaya “pengexposan” oleh media dan hukuman untuk mereka bisa diringankan. Sampai kapan Negara ini bebas korupsi ? bukankah Negara kita Negara yang berbudi luhur ? bukankah Negara kita masih sangat melekat nilai-nilai adat ketimuran ? Lalu apa yang salah ?. Mungkin menurut saya jawaban dari semua pertanyaan tersebuat adalah kesalahan pada pembentukan karakter masyarakat Indonesia saat ini.

kalimat deduktif



Potret Calon Pemimpin Bangsaku . . .
Iman dan pendidikan agama perlu ditanamkan didalam diri sejak dini,serta peran orang tua sangat dibutuhkan.
Mengapa hal tersebut sangat diperlukan ?
Karena akhir-akhir ini pergaulan remaja saat ini sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak,kalau anak sd saja saat ini dengan bebasnya dan tanpa rasa malu mereka berani memegang rokok dan menghisapnya di tempat-tempat umum. Tak sampai disitu teknologi yang berkembang pesat dalam dunia informasi bukan hanya memberikan manfaat positif,tapi juga kini telah berdampak negative,lihat saja banyak anak-anak SD,SMP maupun siswa SMA yang banyak menyalahgunakan warnet sebagai tempat “cabut sekolah”,atau bahkan hal yang lebih ekstrim banyak diantara mereka yang menyalahgunakan internet untuk membuka situs-situs pornografi.
Lebih dari itu tawuran pelajar kini telah menjadi “tren”,subhanallah ,miris memang mendengarnya. Mereka mungkin telah lupa hakekat dasar mereka sebagai pelajar,sangat disayangkan memang,mereka yang diibaratkan sebagai tunas-tunas muda bangsa ini yang tak lain sebagai calon-calon pemimpin bangsa,kini telah menjauh dari nilai agama dan adat-istiadat. Lalu siapa yang pantas disalahkan ?.

Kamis, 15 Desember 2011

pasti lo mau tau banget

Jangan dibaca ah,malu hahaha

Y
uks mareeee,gue mulai ya cerita gue ini,hahaha
Penasaran ga ? apa mau banget ? haha
Entah konyol atau apalah,yang pasti ini sering gue temui dipagi hari,fren !
Wewwww… bukan cewek cantik,atau cowo ganteng fren,ya masa iya gue lekong. Ya walau status bercinta gue sedang kosong alias jomblo atau kerennya ‘single’ hahaha.
Tapi tetep gue pria sejati dengan sejuta cinta.
Aktifitas gue dipagi hari ga bukan,ga lain dan ga bukan lain-lain,jangan bingung fren,hohoho
Jreng…jreng..jadi ojek pribadi kakak gue,maklum siapa sih yang nggak tau macetnya ini kota ?
Pagi-pagi aja udah macet,sama aja mengurung mood baik gue haha,Pak Gubernur ..pliss perbaiki tata kota,kota saya tercinta ini.
Yuks ahhhh langsung ke benang merah,bukan karpet merah lho yang ada nanti gue melambai-lambaikan tangan bak kaya Tom Cruise yang berjalan diajang award haha
Perhatiin deh,jangan perhatiin gue tapi,perhatiin setiap mobil dipagi hari, Ada apa sih ? kenapa ? mengapa ? dan bagaimana ? haha maklum dulu SMA gue Cuma rajin masuk pas pelajaran Bahasa Indonesia,ditambah gaulnya gue dulu sama guru Bahasa Indonesia,duluuuuu lho pas gue masih muda,sekarang ? muda juga sih haha
Pasti fren selalu ada hal konyol lho yang dilakuin para penumpang mobil,coba tebak ?!
Sekalian nyebayangin,eh tapi jangan nyebayangin yang aneh ! dosa ah,hahaha
Fren..,dari yang hampir setiap pagi gue lihat di sepanjang Jl.Raya Condet selalu aja ada hal yang bikin gue ngakak,mau ketawa takut diteriakin orang sinting ntar gue,maklum pemakai jalan kalo pagi di tambah macet,emosinya ga nahan bung,serem-serem banget.
Ada lho fren,cewe yang tetep ngejaga kecantikan mereka walau waktu udah ngajak berantem alias telat cuy,ada lho penumpang mobil yang nyalon ekspress didalem mobil,ntah pakai bedak atau apalah maklum gue kaum adam ga hobi dandan,ya iyalah masbrooooo..haha
Ntah ada ajalah cew yang rambutnya digulung,apadeh namanya penggulung rambut ???
Cariin gue jawabannya ya !
Ga berhenti sampe disitu fren,adalagi hal lucu yang bias dilakuin didalam mobil,lo tau apa ?
Tidur dengan gaya cantik bak puteri salju yang lagi ngantuk berat abis pesta 2 minggu nonstop haha *Lebay
Kayanya sih tuh mata dipaksa banget bangun pagi sampe akhirnya dijalan tuh mata ngambek minta bobo lagi,haha
Yuk lanjut fren,ada lagi sarapan ekspress ga kalah sama cinta ekspress #curcol hahaha maklum jomblo fren
Mungkin waktu yang mepet sampe ga ada waktu lagi makan dirumah,makanya mereka lebih baik makan didalem mobil daripada perut ngambek dan akhirnya maag tanpa di undang dateng
Dan lho tau fren,hal yang bikin ngenes adalah ketika pengendara motor lihat tuh penumpang mobil mau nglahap sandwich dengan double cheese + beef + telur dengan mayonnaise yang keluar dari roti hhhhmmmmm nyummy abis pastinya
Gue yakin air liur pengendara motor ga segan-segan buat keluar dari goa sejuta rasa ( bau maksud gue ) hahaha *mulut
Udhan ya ceritanya fren,gue mau lanjutin perjalanan lagi Lampu udah nyala hijau hahaha

Selasa, 15 November 2011

jurnal internasional perilaku konsumen




PERILAKU KONSUMEN ANTAR BUDAYA

Pemasaran Internasional Review,
David Luna
University of Wisconsin-Whitewater, Whitewater,
Wisconsin, AS, dan Susan Forquer Gupta
University of Wisconsin-Milwaukee, Milwaukee,Wisconsin,Amerika Serikat


Abstrak
 Perekonomian dunia semakin lintas-budaya.Selama dekade berikutnya,sebagai pemasar memasuki pasar internasional baru,pemahaman tentang bagaimana pengaruh budaya
perilaku konsumen akan sangat penting untuk kedua manajer dan peneliti konsumen.Artikel ini menyajikan suatu kerangka kerja yang mengintegrasikan dan menafsirkan penelitian saat di lintas-budaya perilaku konsumen.Kerangka juga berfungsi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang memerlukan penelitian lebih lanjut dan dapat digunakan sebagai template untuk pemasar berusaha memahami konsumen asing mereka.Globalisasi pasar dan internasional persaingan membutuhkan perusahaan untuk beroperasi dalam lingkungan multicultural.
Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengembangkan pandangan integratif arus penelitian tentang lintas-budaya perilaku konsumen.Namun, ada model pengaruh budaya pada perilaku konsumen tidak menawarkan sebuah kerangka di mana sastra bisa cukup terintegrasi, tidak tegas didasarkan pada teori, atau tidak berisi laporan lengkap tentang bagaimana dimensi budaya tertentu mempengaruhi perilaku konsumen komponen tertentu. Model yang ada sering terlalu rumit untuk dimasukkan ke dalam praktek, yang berisi kelimpahan istilah abstrak
dan manajer konstruksi yang mungkin tidak sepenuhnya memahami, apalagi menggunakan
untuk mengumpulkan informasi tentang konsumen asing (Manrai dan Manrai 1996).
Akibatnya, Douglas et al. (1994) panggilan untuk penelitian lebih lanjut di daerah tersebut
menyatakan bahwa `` kerangka teoritis dan konseptual yang kuat dibutuhkan,
mengintegrasikan konstruksi dari tradisi penelitian yang berbeda dan disiplin''







ULASAN PEMASARAN INTERNASIONAL

Dalam beberapa kasus, peneliti telah berhasil dalam menyediakan manajerial yang jelas
model perilaku konsumen lintas budaya (misalnya Samli, 1995). Kami kerangka kerja
membangun pada pekerjaan tersebut dan meluas dengan:
1.menawarkan dimensionalization budaya yang baik mudah untuk
mengoperasionalkan dan secara teoritis ketat;
2. memberikan definisi yang diterima secara luas perilaku konsumen dalam hal komponennya bukan hanya daftar topik perilaku konsumen yang mungkin atau mungkin tidak akan terpengaruh oleh budaya, dan
3. komprehensif mengintegrasikan dan menafsirkan penelitian saat ini dalam terang dari masing-masing interaksi antara manifestasi budaya dan perilaku konsumen komponen yang diusulkan dalam rangka. Sebagai Douglas et al. (1994) menyarankan, kerangka kerja kami menggabungkan sumber yang berbeda,
penelitian tradisi, dan filsafat metodologis tentang bagaimana melakukan lintas budaya
penelitian.

Perilaku Konsumen antar Budaya

Dari perspektif diterapkan, dua definisi budaya, emik dan etik,dapat dianggap sebagai dua sisi dari koin yang sama. Budaya adalah lensa, membentuk kenyataan, dan cetak biru, menentukan rencana tindakan. Pada saat yang sama, budaya adalah unik untuk sebuah kelompok orang tertentu.Dengan memanfaatkan penelitian yang disediakan oleh kedua pendekatan, kita memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dari budaya (s) bunga.Kita sekarang akan membahas sebuah model yang menggambarkan pengaruh timbal balik budaya dan perilaku konsumen.Interaksi budaya dan perilaku konsumen.Perilaku individu adalah hasil dari budaya yang individu sistem nilai untuk konteks tertentu. Sistem budaya individu nilai yang dikembangkan dari waktu ke waktu karena mereka disosialisasikan ke dalam kelompok tertentu.Masyarakat budaya serta subkultur daerah dan nilai-nilai keluarga semuanya mempengaruhi pembentukan sistem nilai budaya individu.Dengan demikian,nilai budaya sistem mencakup unsur-unsur budaya yang individu-individu memiliki kesamaan dengan kelompok (s) di mana mereka berada, serta nilai-nilai istimewa yang unik ke individu.Sebagai model menunjukkan, budaya mempengaruhi perilaku konsumen, yang dengan sendirinya bisa memperkuat manifestasi budaya (Peter dan Olson, 1998) Sebuah perilaku konsumsi individu dapat dilihat dan ditiru atau ditolak oleh orang lain.Hal ini kemudian dapat menjadi norma kelompok perilaku dan diidentifikasi sebagai bagian dari budaya suatu populasi tertentu.


Pengaruh nilai-nilai pada perilaku konsumen
Nilai dan kognisi. Dalam kajian mereka, McCort dan Malhotra (1993) menggambarkan sejumlah penelitian tentang pengaruh nilai-nilai budaya pada pengolahan informasi isu-isu seperti kategori persepsi, kesimpulan persepsi dan belajar. Untuk Contohnya, beberapa studi telah meneliti efek dari budaya pada kognitif proses seperti persepsi tentang waktu (misalnya BergadaaƁ, 1990). Demikian pula, Aaker dan Schmitt (1997) menguji pengaruh orientasi budaya, dioperasionalkan bersama dimensi individualisme-kolektivisme, pada diri construal. Dalam dikendalikan percobaan, Aaker dan Schmitt (1997) menemukan bahwa baik individualis dan kolektivis konsumen menggunakan merek untuk diri-ekspresif tujuan (seperti dalam McCracken, 1988). Mereka menggunakan merek, namun, dalam cara yang berbeda: kolektivis konsumen menggunakan merek untuk menegaskan kembali kesamaan mereka dengan anggota mereka ,referensi kelompok,sementara konsumen individualis menggunakan merek untuk membedakan diri dari orang lain rujukan.Etnosentrisme konsumen adalah membangun sering dipelajari oleh lintas-budaya peneliti.Sejumlah penelitian telah meneliti peran budaya nilai pada proses pembentukan sikap. Kita dapat membedakan antara iklan dan penelitian perilaku konsumen.Mempengaruhi menuju iklan dan / atau produk merupakan dua dari alat ukur yang paling penting dari keberhasilan dalam iklan. Oleh karena itu, sejumlah peneliti telah meneliti iklan afektif variabel dalam lintas-budaya iklan. Secara khusus, beberapa
penelitian telah berusaha untuk memastikan peran nilai-nilai budaya pada iklan-menimbulkan sikap. Sebagai contoh, Taylor et al. (1997) konteks tinggi dan rendah dibandingkan
sebagai simbol pada konsumen 'kognisi. Studi mereka menyarankan bahwa campuran-bahasa (Jepang-Inggris) iklan mengkomunikasikan nilai-nilai tertentu yang tunggal-bahasa iklan tidak bias mengungkapkan. Simbol dan mempengaruhi. Pengaruh bahasa pada iklan-diinduksi sikap telah mendapat perhatian. Sebagai contoh, Koslow et al.(1994) menerapkan
Pendekatan sosiolinguistik dalam studi mereka dari iklan untuk US Hispanik. Para
penulis menggunakan teori akomodasi untuk menjelaskan hasil mereka dan berpendapat bahwa Konsumen Hispanik 'persepsi sensitivitas pengiklan terhadap mereka budaya bahasa menengahi efek pada sikap. Respon positif untuk iklan membangkitkan jika mereka menyertakan setidaknya beberapa bagian dalam bahasa Spanyol. Panci dan Schmitt (1996) diikuti pendekatan kognitif untuk menunjukkan bahwa logographbased sistem penulisan (yaitu menulis China) mempromosikan pemrosesan visual, sementara sistem abjad mempromosikan pengolahan pendengaran selama sikap formasi.
Simbol dan perilaku. Studi yang berfokus pada dampak dari simbol pada
perilaku yang diamati konsumen lintas budaya yang berbeda mengikuti dua
metodologi. Beberapa metode praktek tradisional yang diadopsi dari psikologi
(Atau psikolinguistik), dan sebagian lagi menggunakan pendekatan interpretatif dalam
tradisi antropologi. Yang pertama cenderung untuk fokus pada peran bahasa
pada perilaku konsumen ', sedangkan usaha kedua menjadi simbol-simbol selain
bahasa. Menggunakan pendekatan psikolinguistik, Dolinsky dan Feinberg (1986)
konsumen memeriksa bahasa dan bagaimana dari proses subkultur bilingual
informasi dalam pertama mereka dibandingkan bahasa kedua mereka. Mereka menemukan bahwa kedua pengolahan bahasa mengarah ke informasi yang berlebihan dan keputusan suboptimal lebih mudah daripada pengolahan bahasa pertama.Schmitt dan Zhang (1998)
Studi menunjukkan bahwa bahasa bentuk beberapa skema mental, yang dapat menyebabkan
untuk pilihan yang berbeda lintas budaya / bahasa.
Penelitian lain simbol perilaku konsumen dan fokus pada simbolik
Sifat konsumsi menggunakan metodologi penelitian interpretatif. Ger dan
Ostergaard (1998) menunjukkan bahwa konsumsi simbolis pakaian mencerminkan
seringkali bertentangan nilai-nilai budaya dari budaya Turki dan Denmark.
Wallendorf dan Arnould (1988) menemukan bahwa kenangan pribadi memberi makna bagi
kepemilikan benda-benda favorit di Amerika Serikat, sementara status sosial adalah utama
sumber makna di Niger. Oleh karena itu, sifat simbolik konsumsi dan / atau kepemilikan bervariasi dari satu budaya ke budaya lain. Secara khusus, simbol dan ritual harus lebih
jelas dipahami dalam rangka untuk lebih menentukan efek mereka pada dimensi
perilaku konsumen. Penelitian lain pertanyaan-pertanyaan yang perlu ditangani
meliputi:
1. Apa hubungan antara manifestasi yang berbeda dari budaya?
Apakah nilai-nilai budaya asal selalu simbol, ritual dan pahlawan?
2. Jika nilai-nilai memang menentukan bentuk spesifik dari tiga lainnya
manifestasi, ada juga efek timbal balik?
3. Seberapa stabil dan lengkap adalah manifestasi dari budaya?

Model perilaku konsumen mungkin perlu diperluas untuk memperhitungkan dimensi budaya. Hal ini dapat dilakukan dengan baik model yang ada generalisasi untuk memasukkan variabel budaya (misalnya barang milik empat budaya manifestasi dari kerangka kerja kami), atau dengan menerapkan model yang berbeda di budaya yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa contoh tentang bagaimana penelitian mendatang mungkin melanjutkan tugas ini.
 Kita sekarang melanjutkan untuk meninjau penelitian lintas budaya yang masih ada pada
perilaku konsumen dalam terang kerangka kerja kami.
Pengaruh nilai-nilai pada perilaku konsumen
Nilai dan kognisi. Dalam kajian mereka, McCort dan Malhotra (1993) menggambarkan
sejumlah penelitian tentang pengaruh nilai-nilai budaya pada pengolahan informasi
isu-isu seperti kategori persepsi, kesimpulan persepsi dan belajar. Untuk
Contohnya, beberapa studi telah meneliti efek dari budaya pada kognitif
proses seperti persepsi tentang waktu (misalnya BergadaaƁ, 1990). Demikian pula, Aaker dan
Schmitt (1997) menguji pengaruh orientasi budaya, dioperasionalkan bersama
dimensi individualisme-kolektivisme, pada diri-construal. Dalam dikendalikan
percobaan, Aaker dan Schmitt (1997) menemukan bahwa baik individualis dan
kolektivis konsumen menggunakan merek untuk diri-ekspresif tujuan (seperti dalam
McCracken, 1988). Mereka menggunakan merek, namun, dalam cara yang berbeda: kolektivis
konsumen menggunakan merek untuk menegaskan kembali kesamaan mereka dengan anggota mereka referensi kelompok, sementara konsumen individualis menggunakan merek untuk membedakan diri dari orang lain rujukan.
Etnosentrisme konsumen adalah membangun sering dipelajari oleh lintas-budaya
peneliti. Para membangun, seperti yang dioperasionalkan oleh Shimp dan Sharma (1987),
dapat dipandang sebagai nilai instrumental (Rokeach, 1973). Dalam studi mereka,
Shimp dan Sharma (1987) menemukan bahwa etnosentrisme konsumen menentukan
mereka persepsi produk dalam negeri dibandingkan asing (kognisi), serta
mereka sikap dan perilaku.
Penelitian lain dari hubungan nilai-kognisi telah mengambil suatu emik perspektif. McCracken (1988, p. 73) menjelaskan pengertian tentang budaya kategori: `` kategori budaya mendasar koordinat makna. Mereka mewakili perbedaan dasar dengan budaya yang membagi up''dunia fenomenal. Kategori yang mirip dengan psikologis membangun schemata. Mereka membantu individu mengatur dan memberi makna pada dunia. Ada beberapa jenis kategori budaya: kategori waktu,ruang, alam, dan orang. Salah satu cara yang paling penting di mana kategori yang didukung adalah melalui konsumsi barang. Budaya kategori dibentuk sesuai dengan prinsip-prinsip budaya, atau nilai-nilai. Demikian pula, D'Andrade (1992) juga menjelaskan bagaimana skema mental yang dipengaruhi oleh budaya. Dengan demikian, pandangan antropologi budaya juga mengakui bahwa konstruksi kognitif (yaitu kategori) yang ditentukan oleh budaya manifestasi (yakni nilai-nilai).
Nilai dan mempengaruhi.Sejumlah penelitian telah meneliti peran budaya nilai pada proses pembentukan sikap. Kita dapat membedakan antara iklan dan penelitian perilaku konsumen.Mempengaruhi menuju iklan dan / atau produk merupakan dua dari alat ukur yang paling penting dari keberhasilan dalam iklan. Oleh karena itu, sejumlah peneliti telah meneliti iklan afektif variabel dalam lintas-budaya iklan. Secara khusus, beberapa penelitian telah berusaha untuk memastikan peran nilai-nilai budaya pada iklan-menimbulkan sikap. Sebagai contoh, Taylor et al. (1997) konteks tinggi dan rendah dibandingkan Efek dari simbol pada perilaku konsumen Simbol dan kognisi. Sebagian besar penelitian di bidang ini telah menyelidiki dampak dari bahasa pada kognisi konsumen ', untuk sebagian besar dalam iklan sebuah
konteks. Studi tentang kognisi dan struktur kognitif lends sendiri secara alami untuk yang sedang dipelajari melalui alat-alat psikologi kognitif. Oleh karena itu, beberapa studi di daerah ini menerapkan teori psikolinguistik untuk informasi konsumen pengolahan. Penelitian bahasa dalam iklan telah mengalami peningkatan perhatian dari peneliti. Sebagai contoh, Luna dan Peracchio (1999) memperluas dua teori yang dikembangkan oleh para peneliti di psikolinguistik untuk iklan penargetan konsumen bilingual. Schmitt et al. (1994) membandingkan pembicara dari Cina dan Inggris dan implikasi yang struktural perbedaan bahasa memiliki untuk pengolahan informasi konsumen dan mental representasi (informasi apakah visual atau auditorily disajikan misalnya adalah ingat yang lebih baik).

Efek dari ritual pada perilaku konsumen
Beberapa studi lintas budaya mengeksplorasi peran ritual dalam perilaku konsumen.
Satu pengecualian adalah (1991) studi Mehta dan Belk dari ritual kepemilikan India dan imigran India ke Amerika Serikat. Para penulis menjelaskan menggunakan harta oleh imigran dalam mengamankan identitas.Harta dipandang sebagai simbol untuk mempertahankan identitas India mereka dalam pengaturan publik, dan kepemilikanRitual membantu membentuk struktur kognitif mereka, persepsi mereka tentang diri.Arnould (1989) menjelaskan proses pembentukan preferensi dalam ritual perilaku di Republik Niger dan juga bagaimana ritual mempengaruhi perilaku konsumen dalam budaya itu. Salomo dan Anand (1985) menggambarkan bagaimana ritus perempuan bagian dalam New York kontemporer menentukan pakaian konsumsi.Hubungan antara nilai, simbol, ritual dan perilaku konsumen
adalah satu rumit, data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ini [ritual] mungkin merupakan strategi identitas agregat pelestarian berlabuh dalam simbol-simbol yang lebih konkret''. Jadi, ritual tidak mungkin mencerminkan nilai-nilai budaya di mana ritual berasal.
India makanan dapat dimakan oleh imigran India di Amerika Serikat (ritual), tetapi
kemurnian ajaran makanan diabaikan (nilai budaya tradisional India). Sebaliknya,
ritual berfungsi sebagai tanda lahiriah untuk mengamankan identitas seseorang. Peneliti
harus menyelidiki hubungan-hubungan yang kompleks dalam studi masa depan, terutama
karena mereka berlaku untuk masing-masing dari tiga komponen perilaku konsumen:
kognisi, mempengaruhi, dan perilaku.

Kesimpulan
Artikel ini menyediakan kerangka kerja yang mengintegrasikan dan menafsirkan saat ini
penelitian di lintas-budaya perilaku konsumen.Kerangka kerja adalah praktis
alam di bahwa hal itu dapat dengan mudah dioperasionalkan oleh manajer dan konsumen
peneliti tertarik untuk memahami bagaimana bentuk budaya konsumen
perilaku. Kerangka kerja ini disuling dari model yang lebih umum dari
hubungan antara budaya dan perilaku konsumen.Manajer dapat menggunakan
kerangka kerja sebagai template untuk memeriksa bagaimana konsumen di pasar luar negeri akan
bereaksi terhadap produk atau jasa mereka. Sebagai contoh, pemasar memasuki asing
negara dapat penelitian masing-masing sel dalam Tabel I untuk mengidentifikasi potensi culturerelated
masalah atau isu.
Peneliti akademis akan menemukan kerangka berguna karena mengidentifikasi
kekuatan tubuh saat ini literatur dan daerah yang memerlukan lebih
perhatian.Selain itu, artikel ini mencoba untuk mendamaikan dua pendekatan berbeda dalam
studi budaya karena mempengaruhi perilaku konsumen. Etik dan emik filsafat
dilihat sebagai dua sisi dari koin yang sama, masing-masing melengkapi yang lain. Melalui
integrasi dari pekerjaan sebelumnya pada lintas-budaya perilaku konsumen, kami
kerangka memberikan pandangan global dari interaksi budaya dan konsumen
perilaku. Peneliti konsumen sekarang harus menyelidiki daerah dalam
kerangka kerja yang ada adalah kurangnya studi ketat.